Warning!
Tulisan ini tidak mengandung cerita horor, hihihi😅
Di kota saya, Ponorogo. Malam tahun baru islam lebih dikenal dengan Malam Suro. Dengan latar belakang kota yang sangat memperhatikan budaya dengan aneka mistisnya, maka malam satu suro adalah malam yang istimewa di ponorogo.
Untuk saya pribadi, terasa istimewa karena dulu saat saya masih kecil malam satu suro dimanfaatkan keluarga mbah dari ayah untuk berkumpul bersama. Rame, seru! Melihat orang-orang rela berdesakan naik truk untuk pergi ke alun-alun. Jumlah truknya pun tidak hanya satu, dua. Puluhan bahkan mungkin sampai seratus. Terlihat dari parkiran yang sampai jauh sekali dari pusat keramaian.
Kebetulan rumah mbah tidak jauh dari alun-alun kota. Pusat perayaan malam suro selain di batoro katong, juga terpusat di alun-alun. Jadi kebayang kan serunya di rumah mbah malam itu.
Biasanya di alun-alun digelar festival Reog, kembang api, dan acara-acara pendukung yang lain. Sedangkan, siang harinya ada karnaval budaya. Dimana mobil-mobil berubah menjadi bermacam bentuk. Mulai dari bentuk merak, sampai bentuk kraton kerajaan. Mobil-mobil unik itu mengusung kakang dan senduk yang mengenakan berbagai baju daerah. Anak-anak, remaja, beserta orang tua, semua memadatai pinggiran jalan. Antusias menyaksikan.

Dari sekian kali menyaksikan karnaval, hal yang paling terukir di memori saya adalah saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ibu masih menemani hari-hariku. Setiap melihat karnaval, jajanan favorit kami adalah bakpao rasa kacang hijau. Walaupun berjajar puluhan penjual. Tapi kami setia kepada si bakpao. Dulu, belum ada bakpao keliling di desaku. Jadilah bakpao hanya bisa ditemui di kota saat ada keramaian.

Sampai sekarang, memori itu yang hadir ketika bakpao menyapa lidah. Hehhehe
Kembali ke Malam Suro, kata bapak di malam itu orang-orang terbiasa begadang semalam suntuk. Konon, jaman dahulu setiap malam suro banyak anjing berkeliaran. Suro itu sendiri adalah singkatan dari “aSU moRO”, yang artinya “anjing berkunjung”. Jadi orang-orang bangun dan siaga agar tidak diserang anjing liar.
Untuk ritual mistis yan sering dilakukan berupa larung, cuci keris, dll. Saya tidak pernah menyaksikan. Jadi tidak bisa cerita deh. Hehhehe
Kalau penasaran dengan festival Reog, dan karnaval suro-nya ponorogo bisa dicari di you tube. Siang ini pun kami menyaksikan karnaval suro via you tube, sebagai pengobat kangen dan mengenalkan beberapa adat ponorogo kepada anak-anak saat screen time.
Ponorogoku, tempat pulang paling nyaman yang selalu kami rindukan. Lekas membaik kampung halaman. Kita karnaval lagi setelah covid pergi.
Selamat Tahun Baru 1443 H.
Kalau daerahmu, ada apa di tahun baru hijriyah?