Uncategorized

Aku dan Tik-Tik

Kenapa mengapa para dokter, ustad, psikolog, dan para ahli (dibidang masing-masing) berlomba-lomba membuat konten di tiktik?

Bukankah ada sarana lain untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat?

kenapa harus tiktik yang kalau iklannya lewat di you tube “menonjolkan” cewek goyang-goyang, atau cewe pamer aurat?

Sampai timbul keresahan di hati saya, bagaimana kalau iklan itu lewat juga di you tube suami? bahkan yang gak niat punya akun tiktik pun disuguhi si cewek seksi goyang-goyang. Gratisss. Tanpa effort. Sungguh berat godaan bapack-bapack menjaga pandangan di zaman ini.

Keresahan lain adalah tentang bagaimana remaja-remaja yang saya kenal lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ngonten tik tok. “Masalah tugas mah bisa ditunda, tapi goyang tik tik yang utama.” kan miris! Apalagi melihat influencer yang mereka ikuti, aduh ampun! Isinya kalau gak goyang-goyang ya tutorial uwu-uwuan padahal usia masih belasan.

Akhirnya saya sampai di fase ini. Mengambil hikmah dari hal yang membuat saya resah. mencoba menggali sisi positif walau mungkin sedikit naif.

Momen itu…

Saat seorang teman bercerita kepada saya tentang masalahnya. Menurut saya, saya memberikan solusi yang saya harap bisa meringankan. saya sertakan sumber ilmiah sebagai pendukung solusi saya. Tetapi ternyata solusi saya tidak bisa ia terima. Tak lama kemudian, dia mengunggah konten tiktik yang berisi “quote ala-ala”. Quote yang seakan-akan ditulis ahli medis, padahal isinya bertentangan dengan prinsip “kemedisan” itu sendiri. Ahhhh… analisaku kalah sama tiktik. Tapi ya sudah lah ya, toh saya juga bukan ahlinya. bisa jadi yang di tiktik itu kebenarannya lebih bisa dipercaya, walau gak ada data dan sumber ilmiahnya.

Titik itulah yang akhirnya membuat saya paham.

Kenapa Dokter harus membuat konten yang menarik di tiktik? Karena tidak sedikit netizen yang meminta diagnosa ke sana.

Kenapa ustad harus membuat konten yang menarik hati? Karena banyak orang mencari Nasehat kesini.

Kenapa konsultan pernikahan rela bersusah payah membuat konten dan konsisten mengunggah? Untuk menyelamatkan rumah tangga dari konten-konten yang malah memperkeruh masalah. Seolah memahami satu pihak, padahal sedang menyudutkan pihak lainnya. Bukan tambah selesai malah semakin keruh. Parahnya, ketika hobi kita adalah menyimak apa yang ingin kita baca saja. Istri menyimak kewajiban suami, menyimak bagaimana suami harus memperlakukannya. Semakin bertambahlah keluhan istri kepada suaminya. Bukan bersyukur, malah jadi istri yang kufur. Naudzublillah… Tau banget buk? iya.. pengalaman sih.. hehehe.. untung sekarang sudah mulai tobat. baru mulai sih, wkwkwkkw. Minimal mulai menyimak kewajiban-kewajiban istri. Mulai menyimak hak-hak suami.

Tapi saya nyimaknya bukan di tiktik, belum punya niat mengunduhnya. Toh juga bukan ahli apa-apa untuk bisa membuat konten yang bermanfaat, hehehehe.

Leave a comment