Uncategorized

Dua suap aja

Hari ini aku mencoba berkomunikasi dengan suami tentang MPasi untuk si kecil. Jadi si kecil ini terlihat gendut, tetapi bb dan ttb nya di garis hijau, di garis mean (di tengah, pas, ideal). Tapi memang semua orang bilang anak ini gendut dalam artian mereka memuji, karena untuk orang pada umunya bayi gendut itu lucu, sehat.

Lalu bbagaimana denganku? tentu saja aku bahagia. Setelah bertahun-tahun mendengar omongan orang tentang fadhil yang kurus lah yang kecil lah, yg pendek lah (padahal status gizinya normal juga).

Tenyata kebahagiaanku tak sejalan dengan perasaan ayahnya. Ayahnya lebih suka anak yang ramping (dia sebut ideal), bukan anak yabg gendut. Katanya takut keterusan. Apalagi ini perempuan, beliau takut lebih susah menurunkan BB dari pada menaikkan BB.

Berbagai data aku sajikan padanya. Mulai dari kMs, kemudian bagaimana “terlihat gendut” itu bersifat relatif bahwa yang akurat itu adalah kms dan grdan grafik who.

Tapi beliau tetap bersikukuh kalau nadhira terlihat terlalu gendut. Jadi meminta saya saya mengurangi porsi makan si kecil. Baik, sdh saya kurangi porsinya. Sebalnya adalah ketika anaknya masih lahap makan selalu di sounding,”sudah sudah.. sudah banyak” padahal baru di suapan ketiga🙄

saya sudah sering mengajak komunikasi tentang hal ini. Tapi selalu saja tidak efektif.

Seperti malam ini, saya memang sedikit maniakkan nada ketika ayah bilang “sudah nduk makannya, jangan banyan-banyak”

Saya langsung nyaut, “jadi yg bener berapa suap sih yah?”

Beliau jawab “sesuai feelingku”

Nyebelin, dan ya sudah saya jadi malas meneruskan diskusi.

Bintang untuk saya tentu saja satu😂

Bismillah, saya cari tau dulu bagaimana agar sikon bisa mendukung obrolan kami agar lebih santau dan dari hati ke hati.

Esok hari rencana saya, ngobrol sama diri saya ssaya sendiri. Tentang apa yang harus saya prioritaskan.

Uncategorized

Televisi yang demam

Pagi hari sesaat setelah bangun tidur fadhil merengek meminta tv agar dinyalakan. Tumben-tumbenan ni anak kumat lagi melek minta tv. Pasalnya sudah berbulan-bulan kami sepakati aturan, boleh nonton tv setelah mandi. Tapi hari ini… Entahlah..

Mungkin imbas dari pembiasaan baru. Pembiasaan dimana aku membatasi jam nonton tv nya. Ya walaupun tv yang dimaksud disini bukan siaran dari stasiun tv melainkan video yang kami pilihkan untuknya, tapi tetap saja ada perasaan bersalah di hati. Tentang screen time yang berlebihan. Tentang suara tv yang mendsitraksi fokusnya saat diajak berkegiatan.

Benar saja saat diminta memilih mama atau kakak yang mematikan tv. Dia berteriak, “gak matiin tv.” Padaha beberapa hari kemarin dia akan memilih , “aku aja ma yang matiin.” Baiklah memberinya pilihan tidak manjur hari ini.

Aku teringat salah satu peralatan komunikasi yang aku baca dari salah satu buku seni komunikasi dengan balita. Peralatan tersebut bernama “melawak” dijelaskan bahwa sering kali melawak dengan benda mati yang kita suarakan akan berhasil membuat anak menuriti perintah kita.

Kucobalah trik itu..

“mas yuk kita mendekati si tv” sambil kuarahkan tangannya memegang bagian belakang tv.

“panas ya mas? Pantesan tadi tv nya mengeluh badannya panas. Kasian ya.. “

“kok kasian ma?”

“mas fadhil kalau badannya panas, enak gak? Sakit g? “

“iya sakit ma”

“mama jadi takut tv nya sakit, nanti g bisa nyala lagi”

“g mau ma… g mau g nyala lagi”

Kemudian kami berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan agar tv nya sehat. Kami bersepakat bahwa tv-nya butuh bobo, istirahat. Bobonya tv adalah saat kami mematikannya.

Alhamdulillah berhasil juga mematikan tv. Positifnya dari mematikan tv adalah dia mau bobo siang. Lebih berkonsentrasi jika diajak berkegiatan.

Bintang untuk hari ini adalah 5.

Alhamdulillah untuk hari ini. Esok hari aku ingin mencoba komunikasi produktif dengan suami, tentang ketidakkompakan untuk MPAsi putri kedua kami.

Uncategorized

ini tantangan, bukan kesulitan

Tak pernah terfikir olehku sebelumnya, aku akan belajar menulis dan terlibat dalam proyek impian “membuat sebuah buku”. Berawal dari keharusan menulis dalam kelas matrikulasi, dan saya merasa enjoy, easy, walau belum excelent, dan belum earn. Tapi saya ingin memperdalam belajar menulis. Bergabunglah saya dengan komunitas menulis di IP, Rumbel IPMR.

Semester ini, salah satu proyek bersama kami adalah membuat proyek buku antologi. Berada ditengah-tengah penulis yang sudah berpengalaman, bahkan memiliki banyak buku antologi sebelumnya. Saya merasa bena-benar nol, tak punya modal dan pengetahuan apa-apa. Merasa pupuk bawang, hanya ikut-ikutan. Lama sekali aku memikirkan aku akan menulis apa. Apa ide yang akan aku bahas dalam tema besar itu. Berhari-hari. Belum ketemu juga.

Akhirnya saya ingat bahwa komunikasi produktif bisa saya terapkan disini. Jangan ada minder diantara kita.. cie.. wkwkwkw

Mari ubah keminderan dengan motivasi. Mengubah kata “ini sulit” dengan “ini asik, aku tertantang.”

Alhamdulillah tak lama setelah itu aku menemukan ide tentang judul yang akan aku tulis. Begitu nemu ide, aku kegirangan lalu memberi tahu suamiku. Suami menjawab, “siiip, bagus, lanjutkan!” masyaAllah, belum apa-apa semangatku sudah terisi 100 persen dengan dukungan beliau.

Sore ini aku bisa menulis dua paragraf. Walaupun belum tentu bagus, minimal ini adalah langkah awal. Semoga ide terus mengalir, dan bisa menyelesaikan project bersama ini.

Mau baca buku yang ada namamu kan nikma? Tanya hatiku memberi semangat.

Aku memberi bintang 5 untuk usahaku membangun percaya diriku hari ini. 5 karena dampaknya bisa langsung terasa. Aku merasa produktif.

Esok hari aku akan berkonsentrasi lagi berkomunikasi produktif dengan anak pertamaku. Kami ada “PR” yang harus kami selesaikan sebelum september berakhir. Bismillah, kerjasama, tanpa drama.

Uncategorized

Diri ini, jangan julid ah..

Netizen maha benar??? Sering bilang “dasar netizen”
Aku sering, gemes liat netizen gini gitu. Lha tapi akunya termasuk netizen g ya🤭🤭
Jangan-jangan mlh netizen sejati, aiiih.. ndang gek tobat nikma…😁😁

Tapi beneran deh, menahan komentar kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang kita pelajari selama ini tu bikin gateeeel bgt. Puengen komeng ae…

Misalnya, lihat postingan Mpasi orang lain (sama kaya mpasi kita dulu) yang sekarang kita tau itu kurang tepat, bahkan bisa mal gizi. Ya Allah iki jari kudu ngetiiiik.. tapi harus dipikir lagi ya.. apa dampak dari respon kita. Lebih sopan kl kita DM atau PM atau WA atau apalah yang sifatnya pribadi. Tapi harus liat-liat juga, sifatnya lawan bicara kek apa. Jangan sampai niat kita memberitahu karena sayang berakhir dengan bersitegang. Kan g asik, kalau awalnya deduluran, jadi risih-risihan karena kekomenan.

Lihat postingan posisi gendong bayi yang kita tau itu kurang aman. Mmmm.. jempolnya udah g bisa ditahan. Tapi tolong tetep rem kan. Jgn sampai si jempol merasa maha benar, dengan secuil ilmu yg baru dibaca kemarin.

Liat sliweran postingan yang kita tau (atau sok tau) itu kurang tepat. Bahkan ada ahli yang menyatakan itu salah banget, memang membuat ingin sekali berkomentar. Seringnya niatnya karena sayang, tapi kadang yang kamu perhatikan g butuh sayangmu yang model itu. Jadi ya jangan maksa.. wong sayang kok maksa 🙄

Ahli nutrisi bukan, ahli ortopedi juga bukan kok bisa-bisanya mau membenarkan. Ya walaupun niatnya karena sayang, biar g salah langkah “kaya aku dulu”. Tapi hey! Ilmu itu sifatnya g statis, berkembang seiring penemuan terbaru. Yang saya artikan tdk ada kebenaran mutlak 100%. Jadi nikma hentikan jempol sok benarmu itu🤐🤐

Akhirnya sekarang, wes ta lah.. semua adalah ibu terbaik untuk anaknya. Kalau kagak ditanya wes g sah repot-repot mancing mania.. eh mancing perkara🤣🤣

Sekian komunikasi produktif untuk diri sendiri yang nyinyir dan membahayakan stabilitas perkawanan, persahabatan, deduluran, dan kekoncoan.

Kasih bintang 3⭐⭐⭐ untuk hari ini karena abis liat postingan dan akunya diem bae.. heheheh..
3 karena aku merasa bahagia tidak komen macem-macem. 3 karena aku juga masih kepikiran sayang ayok belajar ke ahlinya yuk(huss.. sotoy lagi kan🤯🤯)

Rencanku esok hari adalah komunikasi produktif untuk diri sendiri.

Harike4

tantangan15hari

zona1komprod

pantaibentangpetualang

institutibuprofesional

petualangbahagia

pulauimpian

bunsaybatch6

Uncategorized

Perjanjian Sebelum Belanja

Sebelumnya disclaimer dulu, kami keluar membeli popok adek dan baju tidur kakak dengan menerapkan aturan kesehatan. Kami semua termasuk Kakak disiplin memakai masker, cuci tangan sebelum masuk dan setelah keluar dari toko, dan tentu saja menjaga jarak.

Toko yang kami kunjungi menjual semua perlengkapan bayi dan anak, termasuk mainan. Dulu, setiap datang kesini memang fadhil selalu membeli mainan. Pikir saya saat itu, wajar lah karena durasinya cuma dua bulan sekali.

Semenjak pandemi datang, kami sering drive thru makanan di salah satu tempat makan yang juga memberikan bonus mainan untuk paket anak-anak. Jadilah mainannya banyak sekali. Akhirnya kami putuskan untuk membatasi beli-beli mainan.

Awal-awal membatasi adalah dengan mengumpulkan poin. Jika kakak berbuat baik dapat satu bintang. Bintang ditempel sampai 10 untuk mendapatkan satu wish list. Berjalan, tapi rasanya terlalu cepat itu bintang 10 terkumpul.

Akhirnya kami ganti dengan cara menabung. Ketika dia menginginkan sesuatu akan kami jawab, “nabung dulu….” Alhamdulillah cara ini efektif, karena juga didukung buku cerita yang kisahnya serupa.

Nah kembali ke temuan hari ini. Sebelum berangkat ke toko, kami melakukan perjanjian. “Mas fadhil kita mau beli popok adek dan badan baju tidur kamu. Di tokonya banyak mainan, tapi kita gak beli mainan ya” .

“Eeee.. kenapa gak beli mainan mama?” Tanyanya kepadaku.

“Karena tabungan mas fadhil buat beli istana dari magnet tiles. Jadi pilih istana apa mainan sekarang?” Jawabku memberinya pilihan.

“aku pilih istana”

“oke, anak pintar”

Setelah berada di toko, Fadhil benar-benar tidak meminta mainan. Hanya minta memegang mainan yang lama ia perhatikan, mungkin biar g penasaran. Boleh lah, megang doang mah.. hehehhe..

Setelah selesai berbelanja kami malah menawarkan balon udara murah yang dijual di luar toko. Melarisi pak kaki lima kata ayah. “Oke baiklah, karena fadhil g rewel mama belikan balon ya”

Kata-kataku itu disambut senyuman sumringah dan wajah ompong kegirangan khas fadhil

“Nah kan, kalau nurut sama ayah-mama malah dapat bonus” seruku sambil mengajaknya toss.

alhamdulillah belanja tanpa drama. Walau belum bisa “short” tapi informasi yang saya sampaikan sepertinya bisa diterima dengan baik oleh fadhil. Saya juga memberikan dua pilihan, untuknya. Beli mainan sekarang, atau melanjutkan menabung untuk membeli magnet tiles yang sudah lama ia idamkan.

Aku memberi nilai 5 bintang untuk komunikasi kami hari ini.

Esok hari, saat weekend saya berencana untuk berkomunikasi produktif dengan diri saya terkait proyek menulis buku di RBM IPMR.

Uncategorized

Menjaga harga dirinya

Setelah kemarin saya merencanakan untuk mengasah kemampuan mematikan saklar emosi sejenak (berfikir kemungkinan akibat dari respon yang kita berikan, sehingga kita bisa memilah respon apa yang terbaik). Ternyata sedari pagi fadhil bisa diajak bekerja sama. Mulai dari mandi pagi tanpa drama, sarapan, bermain bareng adek, sampai belajar ngaji semua oke saja.

Seneng sih, dunia terasa damai.. hahahahha

Tapi gimana dong sama planning saya kemarin? Haruskan saya kondisikan agar drama terjadi? Ya enggak dong.. wkwkkwk. Kan tujuan dari belajar ini adalah “proses menjadi ibu yang disayang” jadi yang penting bukan laporannya, tapi bagaimana proses ini kita lalui sebaik mungkin untuk anak dan suami.

Baiklah, sampai siang tidak ada oktaf 8 muncul. Alhamdulillah…..

Nah, sore harinya ni..

Sore hari saat ada teman-teman fadhil main ke rumah. Lumayan rame sih, ada kali 5 anak yang main ke rumah. Awalnya biasa saja. Mereka mai mobil-mobilan dan mainan hewan dari plastik. Alhamdulillah si adek juga anteng aja ikut main di dekat mereka. Akhirnya saya sambi masak deh.. walau mata dan telinga tetap tertuju ke si bayi.. hehhe..

Ditengah-tengah masak sambil nyuci piring wambil ngawasin bayi (multitasking banget, yee khaan? Wkwkkwk ). Ada satu anak yang ke dapur dan melapor kakinya sakit kena tabrak mobil-mobilannya fadhil. Saya panggil fadhil kemudian saya tanya,” fadhil nabrak kakinya mas fathan?”

“Iya mama” jawabnya.

“Fadhil sengaja gak? ” Tanya saya lagi.

“Sengaja mama” jawabnya datar tanpa rasa bersalah.

Kemudia saya nasehatin dengan suara yang biasa aja, “fadhil jangan ditabrak ya mas fathannya, kasian kakinya sakit lo”

Mereka lanjut main lagi, dan saya masak lagi. Tidak lama berselang fathan teriak lagi, “tante tante fadhil nabrak jarinya Rizqi”

Saya matikan kompor dan menghampiri mereka. “Fadhil g boleh gitu” kataku dengan nada agak naik. G sampai oktaf 8 sih.. sekitaran oktaf 3 lah ya.. hehhe

Fadhil tak begitu memperhatikan. Bismillah, saya tidak boleh kelepasan. Bangun komunikasi positif. Saya ambil mobil robotnya untuk menarik perhatiannya. Saya ajak masuk ke kamar senbentar.

“Fadhil, jangan tabrak temennya. Main yang baik ya”

“Aku cuma mau tabrak-tabrak ma” begitu jawabnya.

Fadhil kalau tabrak-tabrak, nanti yang ditabrak sakit. Kalau sakit nanti temennya pulang. Gak mau lagi main disini. Gak papa ta temennya pulang?

G mau.. jawabnya denga mata yang berkaca-kaca.

“Ya sudah, main lagi, tapi yang baik ya.. mobilnya boleh jalan rapi tak boleh tabrak-tabrak.” Ku kembalikan mobil itu padanya.

Setelah itu dia bermain kembali, dan bilang minggir mobil adil mau lewat. Setiap kali lewar didekat temannya. Alhamdulillah…

Poin yang saya ambil adalah saya mulai bisa menakar akibat dari respon saya. Alih-alih memarahinya di depan umum, saya memilih mengajaknya ke kamar untuk berbicara. Hari ini saya urung membuatnya malu di depan umum. Saya menjaga harga dirinya. Kepercayaan dirinya.

Kesalahan saya selama proses komunikasi adalah belum menerapkan KISS. Kejadian pertama saya bilang jangan nabrak mas fathan. Fadhil sudah menerapkannya, tapi kemudian menabrak mas rizqi. Tentu yang salah adalah instruksi saya. Fadhil memang sengaja, awalnya saya pikir sengaja menabrak temennya adalah bentuk penyimpangan perilaku. Tapi ternyata dia sedang ingin bermain tabrak-menabrak.

Esok hari, saya ingin menerapkan KISS saat membersamai anak-anak. Keep Information Short and Simple.

See you tomorrow Fadhil, Nadhira❤️

Uncategorized

Dia menjatuhkanku

Tantangan komunikasi produktif telah dimulai. Tak sulit sebenarnya menemukan kasus dikeseharian saya, karena memang saya sedang membersamai dua balita dengan tantangan dan drama setiap harinya.

Pagi ini ada teman saya main ke rumah, mengantarkan pesanan sarung bantal pesanan saya. Beliau membawa serta dua buah hatinya, yang cepat sekali berbaur dan adan akrab dengan anak saya.

Tidak ada drama selama mereka bermain bersama. Sampai pada akhirnya ibu mereka berpamitan pulang. Anak-anak kami masih bermain lari-larian diluar rumah. Melihat kami keluar (tamu yang mau pulang, dan saya yang mengantar ke depan) mereka menghampiri kami dengan berlari. Kami masih asik mengobrol. Biasalah.. ibu-ibu walaupun sudah ngobrol lama di dalam ternyata masih ada saja topik yg di bahas saat menyiapkan motor sesaat sebelum tancap gas.

Anak-anak masih asik lari-larian.

Saking asiknya ngobrol sambil menggendong bayi, saya tidak menyadari bahwa fadhil (anak pertama saya) lari kencang ke arah saya. Gubruk! Suara sayq terjatuh dengan bayi saya karena ditabrak fadhil dengan kekuatan lari kencangnya. Tubuh saya tersungkur, lumayan terasa sakit. Tapi Alhamdulillah saya berhasil mengamankan bayi dalam gendongan saya. Saat itu selain ada saya, tamu saya, juga ada tetangga sebelah (ibu-ibu) sedang berada diluar. Mungkin karena reflek, semua jadi berteriak. Yang intinya menyalahkan fadhil.

Saat saya bangun dari posisi tersungkur. Sekelebat mata saya menatap galak fadhil. Respon reflek, karena merasa apa yang dilakukan fadhil salah dandan membaya adeknya. Ya Allah … saat saya melotot itu terlihat oleh saya, matanya fadhil sudah berkaca-kaca. Ada penyesalah dan rasa bersalah disana.

Saya matikan dulu saklar emosi saya, dengan cepat menimbang dampak dari respon saya. Toh si adek juga tak apa-apa. Jika saya marah tentu akan melukai hati fadhil karena memarahinya di depan umum.

Saya tarik nafas, menatap fadhil, dan berkata “fadhil mau meluk mama ya..? tapi tadi terlalu kenceng . Jadi mamanya oleng”

Tetangga dan teman saya jadi ikut mereda dan bilang yang intinya lain kali hati-hati ya mas.. kasian mama dan adeknya.

Setelah tamu pulang, kami masuk ke dalam rumah. Fadhil bertanya, sakit mama? Ada yang berdarah? Saya jawab sakit sih mas, tapi gak papa kok .. dia melihat telapak tangan saya yang merah dan bilang, mama itu sakit?? Ayo ke dokter ma. Wkwkkw .. saya malah ngakak dengernya. Hilang sudah kemarahan saya.

Beberapa saat setelahnya, si kakak bertanya lagi tentang kejadian tadi. “Mama tadi kaget ya?” “Mama sakit ya”. Saya jawab kalau saya memang kaget dan meminta lain kali jangan seperti itu lagi. “Kamu merasa bersalah ya mas?” tanya saya. Fadhil menjawab dengan logat khasnya “Iya mama fadhil rasa salah.” Saya kemudian menyuruhnya meminta maaf, saya peluk dia, dan saya bilang saya sudah memaafkannya. Jangan merasa bersalah lagi.

poin komunikasi yang coba saya bangun adalah tidak memarahinya di depan umum dan mematikan saklar emosi sejenak untuk menimbang akibat dari respon saya.

Belum sepenuhnya berhasil karena saya sempat melotot galak kepada fadhil. Tapi saya merasa lebih baik, saat bisa berfikir agak panjang tentang respon yang saya hadirkan hari ini.

Saya menilai diri saya sendiri dengan 3 bintang. Semoga bisa meningkatkan teknik matikan saklar emosi sejenak.

Untuk esok hari rencanya saya simpel “sehari tanpa berteriak dengan kelakuan dua buah hati saya”. Saya masih ingin mempraktekkan lagi teknik matikan saklar emosi ini lebih lanjut.

Bismillah, semoga saklarnya g konslet ya.. 😁

#harike1

#tantangan15hari #zona1komprod #pantaibentangpetualang #institutibuprofesional #petualangbahagia

Uncategorized

ibu muda vs covid

Pekan ini mungkin pekan yang “mengagetkan” untuk kami. Saudara kami dinyatakan positif covid-19. Rumahnya tak jauh dari rumah orang tua kami, malah bisa dibilang mereka “berbagi halaman”. Siapa sangka, desa kami yang merupakan daerah paling hijau di ponorogo akhirnya jadi perbincangan juga.

Padahal kami tidak pulang, salah satu tujuannya agar akung dan uti tidak menyaksikan orang-orang ber-APD wira-wiri, agar tidak merasakan introgasi jajaran perangkat desa. Karena saat new normal belum berlaku, desa kami sangat ketat terhadap pemudik. Orang luar kota akan didatangi petugas ber-APD. Untuk kami hal itu biasa saja, tapi untuk uti dan akung bisa jadi hal yang luar biasa mendebarkan. Malang tak dapat ditolak, walau kami tak pulang dan menahan rindu hampir 6 bulan, ternyata akung dan uti tetap harus menyaksikannya. Menyaksikan apa yang kami takutkan.

Cerita awalnya adalah sodara kami (ibu muda dan bayinya) melakukan tes rapid sebagai syarat naik pesawat ke kalimantan. Sang ibu hasilnya selalu negatif, tapi si Bayi hasilnya 2x reaktif. Karena reaktif ini lah maka disarankan untuk melakukan tes swab. Si ibu iya-iya saja karena merasa dia dan anaknya sehat. Tanpa gejala apapun. Tes swab ini gratis, tapi harus dijemput ambulance + nakes ber APD lengkap. Dampaknya tentu saja omongan warga sekitar, belum juga hasilnya keluar issue yang berkembang sudah di luar kendali. Secara psikis tentu si ibu terganggu dengan semua berita itu. walaupun dia tidak keluar rumah tapi omongan orang terpantau lewat WAS dan percakapan antar orang yang di Screen Shoot kemudian dikirimkan padanya.

Seminggu kemudian, hasil swab pertama (hidung kanan) keluar dan hasilnya negatif semua. ibu dan bayinya negatif. Rasa lega menyelimuti kami semua. Dua hari kemudian tes kedua (hidung kiri) keluar, si ibu tetap negatif tapi bayinya positif. Hari yang berat, hari dimana si ibu menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu muda, yang saat ini jauh dari keluarga dekatnya. Dia tinggal bersama kakeknya yang sudah berumur. Suaminya orang asli kalimantan, dan bekerja disana. Ibunya ada di taiwan, dan sudah berkeluarga disana. Ibarat kata sekarang ini dia single fighter. Kebetulan di dusun kami, masih jarang yang teredukasi dengan baik. Bukannya menghibur dan memberi dukungan. Semuanya hanya panik, bahkan terkesan menghindar. Mendukung tidak harus mendekat, cukup dengan berempati dan tidak mencemooh. Di sana, positif covid ini seperti aib dan diperlakukan seperti pesakitan.

Setelah hasilnya keluar, pihak puskesmas menghubungi dan memberi tahu bahwa esok pagi-pagi sekali mereka akan dijemput ambulance. Si ibu bertanya, apa yang akan terjadi esok. Bidan puskesmas memberi tahu bahwa esok akan diperiksa dokter. karena ibu merasa dia dan anaknya tanpa gejala, maka dia menanyakan kemungkinan isolasi mandiri. Saat itu bidan menjawab, isolasi di RS atau isolasi mandiri akan diputuskan dokter setelah mengambil rontgen adek bayi, dan beberapa tes lainnya. Si ibu tetap memiliki hak untuk memilih isolasi di rumah atau di RS. Maka pagi itu, berangkatlah mereka dijemput ambulance dengan petugas ber APD lengkap.

Sampai Rumah sakit, langsung dilakukan rontgen, dan kemudian sambil menunggu hasilnya disuruh ke kamar lantai 5. Semenjak masuk ruangan itu, ternyata mereka tak punya pilihan. Mereka harus isolasi di RS. Hasil rontgen keluar, dan paru-parunya bersih, semua bagus. Suhunya normal, nafasnya teratur, makannya lahap, tidak ada sedikitpun gejala yang ditunujukkan.

Selama di RS sampai hari ini, tidak ada tindakan khusus yang dilakukan untuk si bayi. Tidak infus, tidak ada obat khusus. Hanya diberi vitamin, dan di cek suhunya secara berkala. Bukankah hal ini bisa dilakukan dirumah? saat isolasi mandiri?

Sebagai keluarga kami ingin menuruti apa keinginan ibunya. Tujuannya tentu menjaga stabilitas mental sang ibu agar imunnya tetap kuat. Karena bukankah imunlah yang membuatnya tetap negatif, walau mengasuh anak yang positif?? Jangankan droplet liur atau keringat si bayi, bahkan lepehan anaknya saja dia makan. Jadi wajar kan kalau kami konsentrasi terhadap imun si ibu?

Kami upayakan untuk bisa mengajukan izin isolasi mandiri, mengingat anak ini juga tak ada keluhan apapun, tak mendapat perawatan khusus juga selama di RS, dan ibunya juga berjanji akan benar-benar melakukan isolasi di rumah. Tapi rasanya bagai anak kecil melawan sekumpulan orang dewasa bersenjata lengkap. Dengan berbagai alasan, upaya kami digagalkan. Padahal dokter anak pun sudah menyatakan, restunya untuk si bayi isolasi mandiri.

Padahal berita menyatakan RS ponorogo kekurangan ruangan untuk menampung penderita covid. Penderita dengan banyak keluhan, penderita dengan gejala, mereka menunggu ruangan kosong. Lalu kenapa kamar itu tidak dipakai saja oleh mereka yang lebih urgent membutuhkan??

Begitulah kisah kami. Mohon maaf jika ada yang tersinggung atau tidak sependapat. Tapi untuk isolasi mandiri, bukankah memang legal adanya? bukankah artis yang menantu menteri itu juga isolasi mandiri sampai sembuh?

Jika diisolasi di RS membuat ibunya stress dan menurunkan imunitasnya, bukankah malah akan membahayakan si bayi?

Uncategorized

Indahnya Kesetiaan Zainab Binti Rosulullah part-2

Setelah melihat kalung Khodijah RA, rosul bertanya kepada kaum muslim tentang keridhoan mereka melepaskan Abul Ash dan mengambalikan kalung zainab. suatu keteladanan otoritas yang terbatas, walaupun menjadi pemimpin, Rosul tetap mempertimbangkan pendapat orang-orang yang dipimpinnya.

Umat muslim memahami apa yang dirasakan Rosul dan bersepakat untuk membebaskan abul Ash dan mengembalikan kalung Zainab.

Saat Rosul mengembalikan kalung Zainab, beliau menyampaikan bahwa Allah telah memerintahakan untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan laik-laki kafir. Abul Ash pun menyanggupi untuk mengambalikan Zainab kepada Rosulullah.

Di Makkah, zainab keluar rumah untuk menyambut kekasihnya di gerbang kota. Binar kebahagiaan muncul di wajahnya ketika melihat Abul Ash memasuki gerbang kota. Tapi sayangnya binar kebahagiaan itu tak bertahan lama, Abul Ash menyampaikan bahwa ia akan mengembalikannya kepada ayahnya. Zainab gusar mendengarnya, dan memohon kepada Abul Ash untuk tetap bersamanya di Makkah atau abul ash yang mengikutinya berhijrah ke Madinah. Hidayah belum juga menghampiri abul ash, tetapi abul ash adalah pria Quraysh yang baik. Ia harus menepati janjinya. Berat sekali rasanya untuk berpisah dari sang suami. Zainab begitu mencintainya. Tapi cintanya tak melebihi cinta kepada Allah dan Rosulnya.  Maka berangkatlah ibunda Zainab ke Madinah diantar olah adik iparnya, Amru ibn rabi’ sang pemanah ulung.

Ketika perjalanan itu kaum Quraysh marah dan berusaha mengancam. Ancaman itu membuat zainab ketakutan dan jatuh dari untanya. Peristiwa inimembuatnya keguguran, karena saat itu ia sedang mengandung anak ke-3 nya. Peristiwa ini pula yang membuat beliau sering sakit-sakitan dan akhirnya menjadi penyebab kematiannya.

Amr bin Rabi’ berkata akan memanah leher siapapun yang mengganggu perjalanan mereka lagi. Namun, salah satu dari kaum Quraysh meyampaikan bahwa apa yang dilakukan Amr menyakiti seluruh kabilah. Amr terang-terangan membawa putri Rosul saat seluruh arab masih sakit hati dengan kekalahan mereka di perang badr. Perjalanan pun ditunda sampai malam harinya. Semenjak malam itu berpisahlah dua kekasihini hingga enam tahun lamanya.

Selama enam tahun perpisahannya, tak terhitung berapa lamaran laki-laki mulia ditolak oleh zainab. Begitu pula dengan Abul Ash, beliau tidak menikah lagi semenjak ditinggal istrinya berhijrah. Kesetiaan yang tak diragukan, saat poligami dianggap hal lumrah abul ash memilih sendiri tanpa kekasih menghiasi sudut rumah.

Sesaat sebelum fathu Makkah kafilah dagang Abul Ash dari Syam melewati Madinah, dan tertangkap oleh pasukan patroli muslim Madinah. Namun abul ash berhasil meloloskan diri. Entah takdir indah, atau hanyakebetulan saja,saat pelariannya ia mendengar suara zainab dari salah satu rumah. Kemudian beliau mengetuk pintu dan meminta perlindungan dari zainab.

Zainab menyambutnya dengan menyapanya sebagai “abu ali dan abu umamah”. Zainab hanya memberi perlindungan dan tetap menjaga izzahnya, dia keluar untuk mengikuti sholat fajr bersama Rosulullah. Setelah takbiratul ikram zainab mengangkat suara, dan berkata bahwa ia telah memberi jaminan kepada Abul Ash. Usai beribadah, rosul membersamai putrinya berjalan ke rumahnya. Saksikanlah pesan indah seorang ayah yang menjaga  syari’at tapi tetapmenampakan kasih sayang. Beliau memberinasihat, wahai zainab! Hormatilah Abul Ash sebagai putra bibimu dan ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, karena itu tidak halal bagimu.

Singkat cerita Rosul dan kaum muslim bersepakat mengembalikan harta  dan melepaskan Abul Ash. Sesampainya di Makkah ia membagikanhasil berdagang dari syam kepada penduduk Makkah dan tidakmengambil sedikitpun upah. Setelah itu, Abul Ash kembali ke Madinah untuk menyatakan keislamannya.

Fajar yang indah saat abul ash sampai di Madinah. Ia bersyahadat dan meminta izin untukruju’ kepada zainab. Nabi pun memeluk menantunya itu dan mengajaknya berjalan menuju rumah zainab. Dengan penuh kebahagiaan Rosul mengetuk pintu, dan memberitahu zainab bahwa ia datang dengan abul ash yang ingin ruju’kepadanya. Maka tampaklah rona bahagia itu, wajah zainab yang kemerah-merahan seraya tersenyum malu-malu, pertanda setuju.

Madinah bergembira, Madinah merayakan cinta dan kesetiaan putri Rosul.

Tetapi setahun berselang, zainab dipanggil oleh Allah. Zainab meninggal di sisi laki-laki yang dicintainya. Kesedihan Abul Ash terasa sangat mendaam, membuat siapapun yang menyaksikan ikut merasakan. Rosulpun menghiburnya, memintanya menerima takdir yang telah Allah tetapkan.

Setahun kemudian, Abul Ashmenyusul istrinya. Meninggal dalam keadaan islam. Meninggal dalam kesetiaan. Meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Begitulah kisah kesetiaan Zainab yang lebih indah dari “dongeng” Juliet.

Begitulah kesetiaan seorang suami yang lebih dalam dari kesetiaan fiktif Romeo.

Sampai jumpa di kisah inspiratif lainnya. Semoga bermanfaat.

Uncategorized

Hyperemesis Gravidarum

Bismillah.. pas didiagnosa hyperemesis perasaan santai2 aja, karena sotoy artinya pasti muntah berlebihan, dan memang seperti itu keadaannya..
Memang berat, tapi ya mau gimana lagi, pas hamil pertama dulu malah bb turun 10 kg, dan ilang2 sendiri mual muntahnya (ke dokter hmpir 2 minggu sekali pas teler dulu, dan g ngaruh.. g ilang sebelum waktunya ilang).
Bedanya, di kehamilan ke 2 ini ada tambahan “keluhannya” karena di bibir ada bintik2, yg jadi pecah2, yang berlanjut hitam dan bengkak. Nyut2an dan gak enak bgt rasanya.

Setelah badan enakan, cari2 deh referensi tentang hyperemesis ini, dan bacanya ngeri2 sedep😮
Pengertiannya hampir mirip kesotoyan saya sih cuma lbh spesifik, ada persenan turunnya berat badan dan dehidrasi akibat si HG ini. Bb turun lbh dari 5%. Kalau di kehamilan saya ini, saya itung sih kurang lebih 12% turunnnya. Dan dehidrasi nampak jelas di bibir saya. Hi
Apakah selama kehamilan saya g minum? Ya minum, tapi beberapa menit kemudian pasti dimuntahkan. Bahkan kl ada kerasa mau muntahin makanan yg agak seret sengaja minum byk, biar enakan muntahnya *muntah kok enakan😪😪

Lanjut baca di dampak dan resikonya, ini yg bikin ngeri.. gak mau bahas disini.. heheh.. karena lagi hanil harus positif thinking, dan alhamdulillah hasil usg si dedek juga baik, sesuai usia dan perkembangannya. Fadhil dulu bb saya juga turun 10 kg, dan alhamdulillah semua lancar setelah TM2.

Penangannya??? Kalau di saya saran2 seperti makan dikit2 tapi sering itu gak ngaruh, hehehe..
Saya menjauhi dapur karena bau bumbu2 bikin tambah mual.
Awal2 pake wedang jahe, makan biskuit, dan kurma itu lumayan membantu, tapi lama2 dimuntahin juga.
Pernah gak muntah setelah makan? Pernah tapi jarang banget, kalau lagi pengen makan sesuatu dan keturutan insyaAllah g muntah. Contohnya pengen hokben dan nasi padang, wkwkwk

Yang paling saya sarankan adalah kalau dokter sdh bilang harus opname, ya opname aja.. g lama kok, cuma rehidrasi, dan masukin obat+vitamin. Saya opname di UK 15w (Iya uda lewat TM1 dan muntah blm berhenti). Perawatan intensif cukup 2 hari saja, dan voila.. dapat jatah makan selalu habis, dan gak muntah. Alhamdulillah pulang juga sudah jauh membaik. Sekarang sdh bisa makan, masak, dan berkegiatan seperti biasa (sebelumnya, benar-benar lemas gak bisa ngapa2in, bukan malas g mau masak tapi bau dapur aja muntah ditambah mai angkat kepala aja berat apalagi mau ngerjain ini itu).
Fadhil juga mulai nafsu makan (selama saya teler, dia cuma makan 1/2 dari porsi makan biasanya).

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.. momentnya pas menyambut ramadhan..
Selamat menyambut ramadhan esok hari.. mohon maaf utk khilaf kata dan sikap
Semoga bermanfaat

Sumber :
Neil, Marry A. Piercy, CN. 2003. Hyperemesis Gravidarum. The obstetrician and gynaecologist. 5:204-7. Tersedia di : https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf
Pengalaman pribadi
Berbagai sumber artikel online