Pekan ini mungkin pekan yang “mengagetkan” untuk kami. Saudara kami dinyatakan positif covid-19. Rumahnya tak jauh dari rumah orang tua kami, malah bisa dibilang mereka “berbagi halaman”. Siapa sangka, desa kami yang merupakan daerah paling hijau di ponorogo akhirnya jadi perbincangan juga.
Padahal kami tidak pulang, salah satu tujuannya agar akung dan uti tidak menyaksikan orang-orang ber-APD wira-wiri, agar tidak merasakan introgasi jajaran perangkat desa. Karena saat new normal belum berlaku, desa kami sangat ketat terhadap pemudik. Orang luar kota akan didatangi petugas ber-APD. Untuk kami hal itu biasa saja, tapi untuk uti dan akung bisa jadi hal yang luar biasa mendebarkan. Malang tak dapat ditolak, walau kami tak pulang dan menahan rindu hampir 6 bulan, ternyata akung dan uti tetap harus menyaksikannya. Menyaksikan apa yang kami takutkan.
Cerita awalnya adalah sodara kami (ibu muda dan bayinya) melakukan tes rapid sebagai syarat naik pesawat ke kalimantan. Sang ibu hasilnya selalu negatif, tapi si Bayi hasilnya 2x reaktif. Karena reaktif ini lah maka disarankan untuk melakukan tes swab. Si ibu iya-iya saja karena merasa dia dan anaknya sehat. Tanpa gejala apapun. Tes swab ini gratis, tapi harus dijemput ambulance + nakes ber APD lengkap. Dampaknya tentu saja omongan warga sekitar, belum juga hasilnya keluar issue yang berkembang sudah di luar kendali. Secara psikis tentu si ibu terganggu dengan semua berita itu. walaupun dia tidak keluar rumah tapi omongan orang terpantau lewat WAS dan percakapan antar orang yang di Screen Shoot kemudian dikirimkan padanya.
Seminggu kemudian, hasil swab pertama (hidung kanan) keluar dan hasilnya negatif semua. ibu dan bayinya negatif. Rasa lega menyelimuti kami semua. Dua hari kemudian tes kedua (hidung kiri) keluar, si ibu tetap negatif tapi bayinya positif. Hari yang berat, hari dimana si ibu menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu muda, yang saat ini jauh dari keluarga dekatnya. Dia tinggal bersama kakeknya yang sudah berumur. Suaminya orang asli kalimantan, dan bekerja disana. Ibunya ada di taiwan, dan sudah berkeluarga disana. Ibarat kata sekarang ini dia single fighter. Kebetulan di dusun kami, masih jarang yang teredukasi dengan baik. Bukannya menghibur dan memberi dukungan. Semuanya hanya panik, bahkan terkesan menghindar. Mendukung tidak harus mendekat, cukup dengan berempati dan tidak mencemooh. Di sana, positif covid ini seperti aib dan diperlakukan seperti pesakitan.
Setelah hasilnya keluar, pihak puskesmas menghubungi dan memberi tahu bahwa esok pagi-pagi sekali mereka akan dijemput ambulance. Si ibu bertanya, apa yang akan terjadi esok. Bidan puskesmas memberi tahu bahwa esok akan diperiksa dokter. karena ibu merasa dia dan anaknya tanpa gejala, maka dia menanyakan kemungkinan isolasi mandiri. Saat itu bidan menjawab, isolasi di RS atau isolasi mandiri akan diputuskan dokter setelah mengambil rontgen adek bayi, dan beberapa tes lainnya. Si ibu tetap memiliki hak untuk memilih isolasi di rumah atau di RS. Maka pagi itu, berangkatlah mereka dijemput ambulance dengan petugas ber APD lengkap.
Sampai Rumah sakit, langsung dilakukan rontgen, dan kemudian sambil menunggu hasilnya disuruh ke kamar lantai 5. Semenjak masuk ruangan itu, ternyata mereka tak punya pilihan. Mereka harus isolasi di RS. Hasil rontgen keluar, dan paru-parunya bersih, semua bagus. Suhunya normal, nafasnya teratur, makannya lahap, tidak ada sedikitpun gejala yang ditunujukkan.
Selama di RS sampai hari ini, tidak ada tindakan khusus yang dilakukan untuk si bayi. Tidak infus, tidak ada obat khusus. Hanya diberi vitamin, dan di cek suhunya secara berkala. Bukankah hal ini bisa dilakukan dirumah? saat isolasi mandiri?
Sebagai keluarga kami ingin menuruti apa keinginan ibunya. Tujuannya tentu menjaga stabilitas mental sang ibu agar imunnya tetap kuat. Karena bukankah imunlah yang membuatnya tetap negatif, walau mengasuh anak yang positif?? Jangankan droplet liur atau keringat si bayi, bahkan lepehan anaknya saja dia makan. Jadi wajar kan kalau kami konsentrasi terhadap imun si ibu?
Kami upayakan untuk bisa mengajukan izin isolasi mandiri, mengingat anak ini juga tak ada keluhan apapun, tak mendapat perawatan khusus juga selama di RS, dan ibunya juga berjanji akan benar-benar melakukan isolasi di rumah. Tapi rasanya bagai anak kecil melawan sekumpulan orang dewasa bersenjata lengkap. Dengan berbagai alasan, upaya kami digagalkan. Padahal dokter anak pun sudah menyatakan, restunya untuk si bayi isolasi mandiri.
Padahal berita menyatakan RS ponorogo kekurangan ruangan untuk menampung penderita covid. Penderita dengan banyak keluhan, penderita dengan gejala, mereka menunggu ruangan kosong. Lalu kenapa kamar itu tidak dipakai saja oleh mereka yang lebih urgent membutuhkan??
Begitulah kisah kami. Mohon maaf jika ada yang tersinggung atau tidak sependapat. Tapi untuk isolasi mandiri, bukankah memang legal adanya? bukankah artis yang menantu menteri itu juga isolasi mandiri sampai sembuh?
Jika diisolasi di RS membuat ibunya stress dan menurunkan imunitasnya, bukankah malah akan membahayakan si bayi?