Uncategorized

Dia menjatuhkanku

Tantangan komunikasi produktif telah dimulai. Tak sulit sebenarnya menemukan kasus dikeseharian saya, karena memang saya sedang membersamai dua balita dengan tantangan dan drama setiap harinya.

Pagi ini ada teman saya main ke rumah, mengantarkan pesanan sarung bantal pesanan saya. Beliau membawa serta dua buah hatinya, yang cepat sekali berbaur dan adan akrab dengan anak saya.

Tidak ada drama selama mereka bermain bersama. Sampai pada akhirnya ibu mereka berpamitan pulang. Anak-anak kami masih bermain lari-larian diluar rumah. Melihat kami keluar (tamu yang mau pulang, dan saya yang mengantar ke depan) mereka menghampiri kami dengan berlari. Kami masih asik mengobrol. Biasalah.. ibu-ibu walaupun sudah ngobrol lama di dalam ternyata masih ada saja topik yg di bahas saat menyiapkan motor sesaat sebelum tancap gas.

Anak-anak masih asik lari-larian.

Saking asiknya ngobrol sambil menggendong bayi, saya tidak menyadari bahwa fadhil (anak pertama saya) lari kencang ke arah saya. Gubruk! Suara sayq terjatuh dengan bayi saya karena ditabrak fadhil dengan kekuatan lari kencangnya. Tubuh saya tersungkur, lumayan terasa sakit. Tapi Alhamdulillah saya berhasil mengamankan bayi dalam gendongan saya. Saat itu selain ada saya, tamu saya, juga ada tetangga sebelah (ibu-ibu) sedang berada diluar. Mungkin karena reflek, semua jadi berteriak. Yang intinya menyalahkan fadhil.

Saat saya bangun dari posisi tersungkur. Sekelebat mata saya menatap galak fadhil. Respon reflek, karena merasa apa yang dilakukan fadhil salah dandan membaya adeknya. Ya Allah … saat saya melotot itu terlihat oleh saya, matanya fadhil sudah berkaca-kaca. Ada penyesalah dan rasa bersalah disana.

Saya matikan dulu saklar emosi saya, dengan cepat menimbang dampak dari respon saya. Toh si adek juga tak apa-apa. Jika saya marah tentu akan melukai hati fadhil karena memarahinya di depan umum.

Saya tarik nafas, menatap fadhil, dan berkata “fadhil mau meluk mama ya..? tapi tadi terlalu kenceng . Jadi mamanya oleng”

Tetangga dan teman saya jadi ikut mereda dan bilang yang intinya lain kali hati-hati ya mas.. kasian mama dan adeknya.

Setelah tamu pulang, kami masuk ke dalam rumah. Fadhil bertanya, sakit mama? Ada yang berdarah? Saya jawab sakit sih mas, tapi gak papa kok .. dia melihat telapak tangan saya yang merah dan bilang, mama itu sakit?? Ayo ke dokter ma. Wkwkkw .. saya malah ngakak dengernya. Hilang sudah kemarahan saya.

Beberapa saat setelahnya, si kakak bertanya lagi tentang kejadian tadi. “Mama tadi kaget ya?” “Mama sakit ya”. Saya jawab kalau saya memang kaget dan meminta lain kali jangan seperti itu lagi. “Kamu merasa bersalah ya mas?” tanya saya. Fadhil menjawab dengan logat khasnya “Iya mama fadhil rasa salah.” Saya kemudian menyuruhnya meminta maaf, saya peluk dia, dan saya bilang saya sudah memaafkannya. Jangan merasa bersalah lagi.

poin komunikasi yang coba saya bangun adalah tidak memarahinya di depan umum dan mematikan saklar emosi sejenak untuk menimbang akibat dari respon saya.

Belum sepenuhnya berhasil karena saya sempat melotot galak kepada fadhil. Tapi saya merasa lebih baik, saat bisa berfikir agak panjang tentang respon yang saya hadirkan hari ini.

Saya menilai diri saya sendiri dengan 3 bintang. Semoga bisa meningkatkan teknik matikan saklar emosi sejenak.

Untuk esok hari rencanya saya simpel “sehari tanpa berteriak dengan kelakuan dua buah hati saya”. Saya masih ingin mempraktekkan lagi teknik matikan saklar emosi ini lebih lanjut.

Bismillah, semoga saklarnya g konslet ya.. 😁

#harike1

#tantangan15hari #zona1komprod #pantaibentangpetualang #institutibuprofesional #petualangbahagia