cerita mama, Uncategorized

Jangan Takut?

Benarkah untuk menjadikan anak berani dan percaya diri adalah dengan melarangnya mempunyai rasa takut? Saya rasa tidak.Mengakui dan menerima apapun yang dirasakan anak kecil adalah hal yang harus diusahakan oleh orang tua.

Terkadang terlalu mendambakan anak yang periang, kita melarang anak untuk bersedih. “Cup sayang, Adek jangan sedih, adek gak boleh sedih.” Mendambakan anak yang pemberani dan percaya diri, lantas mendoktrinnya bahwa ia tak boleh takut. “Buang jauh-jauh rasa takutmu nak!”

Menurut saya segala bentuk emosi yang kita anggap negatif, adalah emosi yang tidak mungkin dihindari. Ketika masih kecil kita bisa saja menyiapkan dunia anak yang sedemikian rupa supaya dia selalu bahagia dan selalu memiliki perasaan positif. Namun, ketika ia beranjak dewasa bisakah dunia ini hanya memberikan emosi yang positif saja? Bahagia sepanjang waktu? Berani dalam keadaan apapun? Kita tau pasti bahwa jawabannya adalah tidak.

Lalu kenapa tidak kita terima saja segala emosinya? Membuatnya mengenali apa emosi itu, bagaimana menyikapinya, dan apa yang selanjutnya harus ia lakukan.

Teringat dengan kelas sekolah ibu yang pernah saya ikuti. Pemateri menyampaikan ketika emosi dasar telah dikenali anak, ia baru bisa beranjak ke fase berikutnya. Yaitu memutuskan apa yang selanjutnya harus ia lakukan. Misalnya merubah kecewa menjadi motivasi untuk berusaha lebih keras agar hasil usahanya tak mengecewakan lagi.

Begitu juga dengan perasaan sedih. Walaupun kita anggap sedih adalah emosi negatif tapi ia akan menumbuhkan empati dan simpati. Bukankah aneh jika anak merasa bahagia melihat orang disekitarnya tidak baik-baik saja?

Pun akan aneh rasanya jika anak kita yang kelak akan menjadi dewasa tidak takut melakukan dosa dan hal tercela. Karena ia tidak mengenal rasa takut. Ditanamkan semenjak dini bahwa rasa takut tidak boleh ada dalam kamus hidupnya. Kok rasanya akan lebih menakutkan bila bertemu dengan orang seperti ini ya, Bu?

Namun, bukan berarti kita boleh menakut-nakuti anak ya…. Menakuti anak dengan hantu supaya segera tidur. Menakuti anak ada wewe gombel agar anak tidak main di sungai, dan segala jurus menakuti lainnya agar anak disiplin. Hal itu tetap tidak dibenarkan, karena kita yang memanipulasi ketakutannya.

Percayalah saya pun sedang berusaha, memeluk rasa takut anak saya. Membantunya mengurai tentang ketakutannya. Kemudian bersama-sama mencari cara untuk mengatasinya. Prosesnya tak semudah yang saya tulis disini. Penerimaan terhadap anak laki-laki yang takut ketinggian juga sempat membuat saya frustasi. Karena saya memang bukan ibu peri, kesalahan perlakuan tentu pernah terjadi. Semoga saya termasuk ibu yang mau memperbaiki diri. Semangat nikma, terima kasih telah berani mengakui. Terima kasih untuk takut salah lagi.