cerita mama

Kisah Panjang Perempuan Manja yang Dewasa di Perantauan

Pernah mendengar quote “merantau mendewasakan?” Saya setuju dengan kalimat tersebut.

Designed by me

Pertama kali berangkat merantau adalah saat kuliah. Tidak jauh memang, seputaran jawa timur saja. Naik bis lima jam sampai kota tujuan. Seminggu awal ditempat rantau rasanya ingin terbang pulang. Tiga kali sehari telpon Bapak. Saat itu Bapak menasehati bahwa memang seperti itu rasa merantau untuk dua minggu awal, selalu ingin pulang. Namun, saya tetap merajuk. Senjata pamungkas Bapak adalah menantang, “ya sudah silahkan pulang, kuliah disini saja.” Bukan saya meremehkan perguruan tinggi di kota kami. Tapi jurusan yang saya minati tidak ada disana. Jadilah setelah ancaman itu, saya tidak lagi merajuk. Menikmati beradaptasi dengan dunia baru, lingkungan baru, dan kebiasaan baru.

Untungnya di surabaya ada keluarga paklek. Saya ponakan manja yang sering minta dijemput. Teringat benar paklek berjuang menjemput setelah beliau pulang kantor. Kenapa berjuang? Karena jalanan dekat kampus saya selalu macet. Kebetulan saat itu juga bulan puasa. Mendekati jam berbuka macetnya lebih dari luar biasa. Jadi tak jarang saya membuat paklek harus berbuka ala kadarnya di jalan sambil menikmati kemacetan.

Setelah kurang lebih satu bulan, saya tidak kuat lagi bertahan tanpa kendaraan. Maka si manja ini merepotkan saudara lagi. Saudara yang saat itu kuliah di surabaya, saya minta membawakan motor saya dari ponorogo. Setelah ada motor semua terasa membaik. Kegiatan tak hanya monoton kuliah, belajar, praktikum. Sesekali saya bisa berjalan-jalan melepas penat.

Motor juga membuat saya bisa mencari tambahan uang saku, menjadi guru les privat. Lumayan, dalam seminggu bisa 3-5 kali mencari tambahan uang saku ini. Merantau mendewasakan saya untuk bisa mengatur keuangan. Jatah yang dikirim bapak untuk hidup di kota besar harus dikelola sedemikian rupa. Saya pernah berada di titik, uang tinggal empat ribu. Maka sarapan dengan kecap dan pilus sering saya alami. Tapi sayangnya bisa mengatur keuangan ala saya terbatas hanya pola konsumtif saja. Artinya uang harus cukup untuk sekian hari. Sampai sekarang pun saya masih kesusahan untuk menabung apalagi investasi. Ya setidaknya saya bisa menghindari hutang. Beli-beli online ke teman pun sebisa mungkin segera saya bayar. Karena menurut saya hutang akan mengurangi nyenyaknya tidur, hehehe.

Selain latihan mengatur uang, saya juga belajar menikmati momen. Rasa kangen kampung halaman selalu ada, bahkan sampai bertahun-tahun setelah merantau. Saat mendekati hari yang direncanakan untuk pulang, selalu menjadi hari yang menyenangkan. Dengan semangat saya menggeber motor kesayangan ke terminal. Mencari bis bergambar panda, dan melalui lima jam yang menyenangkan. Kadang tertidur, kadang melamun, kadang membaca buku. Dulu HP belum secandu sekarang. Tahun 2010-an fungsi HP hanya untuk sms, telfon, foto, facebook, dan game ular. Anehnya saat terlalu lama di rumah, saya merindukan surabaya dengan berbagai aktivitasnya. Saya ingat pernah curhat dengan seorang ustadzah, kenapa ketika di surabaya sangat ingin pulang. Namun, ketika di rumah juga merindukan surabaya. Beliau menjawab, berperanlah dan nikmati sepenuhnya dimanapun kamu berada. Saat di rumah maksimalkan berbakti kepada bapak dan melakukan apa yang ingin dilakukan saat libur. Begitu juga saat di surabaya, maksimalkan belajar dan menghayati setiap kegiatannya. Agar bahagia di rumah, bahagia juga dirantau.

Setelah selesai kuliah, saya melanjutkan merantau ke kota sebelah. Menjadi pengajar salah satu sekolah di gresik. Walaupun memang dekat sekali dengan surabaya, tapi saya tetap perlu beradaptasi. Satu-Dua bulan awal saya lalui dengan ikut nyantri di pondok tersebut. Jadi konsep sekolahnya adalah LPI atau lembaga pendidikan islam. Sekolah formal berbasis agama. Namun, juga disediakan pondok pesantren untuk mereka yang ingin mondok ala pesantren NU. Saya Hanya bertahan dua bulan karena alasan kesehatan, atau mungkin itu hanya alasan. Hihihi…. Saya mungkin tidak cocok lagi dengan sistem yang kemana-mana harus melalui perizinan yang ketat. Akan tetapi dua bulan yang singkat ini, mungkin salah satu sarana latihan saya sebelum menjadi istri dan ibu. Dimana langkah kaki tidak sebebas dan seringan saat masih bujang. Alhamdulillah kini saya menikmati keadaan dimana untuk pergi ke kamar mandi saja harus izin dengan anak-anak saya. Sungguh perizinan yang lebih ketat bukan?

Setahun menjalani aktivitas di gresik, saya memutuskan pulang ke ponorogo. Alasan saat itu saya ingin lebih dekat dengan Bapak. Ingin menikmati waktu di rumah. Teringat cerita guru SMA dulu. Beliau mengatakan bahwa kuliah adalah gerbang awal keluar dari rumah. Kuliah-kerja-kemudian menikah, maka rumah masa kecil akan menjadi rumah yang disambangi saat senggang saja. Bukan lagi rumah yang setiap hari menjadi tujuan pulang. Kembali ke ponorogo benar-benar tanpa persiapan yang matang. Saya tidak berfikir akan sulit mencari kerja tanpa punya “orang dalam”. Di gresik saya mencari kerja tanpa orang dalam, diterima bahkan sebelum ada ijazah resmi. Maka dengan kepedean tingkat tinggi saya merasa tak akan sulit mencari pekerjaan di ponorogo. Ternyata tidak ya pemirsa! Saya menyebar lebih dari 20 lamaran, door to door ke sekolah. Setelah beberapa minggu mencari akhirnya saya menemukan lowongan pekerjaan di salah satu bimbel di ponorogo. Setelah itu barulah jalan terbuka. Ada tawaran mengikuti seleksi untuk menjadi guru di salah satu SMPIT berkat seorang kenalan. Disini sata belajar bahwa menjalin silaturahmi dan pertemanan yang baik itu sangat penting. Apalagi kalau kamu pulang dari perantauan, dan tidak tahu bagaimana bursa lapangan pekerjaan di kota asalmu.

Setelah lelah bekerja di tiga tempat (bimbel, sekolah, dan radio). Akhirnya Allah mempertemukan dengan takdir saya selanjutnya. Jodoh! Takdi yang membawa saya meuju episode merantau selanjutnya. Inilah merantau yang banyak mendewasakan saya. Saya harus belajar banyak hal. Sebelum menikah, jangankan memasak belanja sayur pun jarang saya lalukan. Merantau dengan keluarga kecil ini membuat saya dengan suka rela belajar memasak. Belajar mengatur uang belanja, belajar menikmati kehidupan ibu rumah tangga. Karena tak berselang lama Alhamdulillah Allah anugerahkan putra kepada kami. Saya pun harus belajar menjadi ibu, belajar tentang nutrisi untuk anak, belajar tentang stimulasi tumbuh kembang, dan paling penting belajar agar tak salah bersikap sebagai seorang ibu.

Mungkin jika saya tidak ikut merantau dengan suami. Belajar memasak belum tentu saya lakoni, karena masakan uti sudah terjamin memanjakan lidah.

Mungkin jika tidak ikut merantau. Saya belum terbiasa nyebokin anak, memandikan anak, dan semua detail kecil yang berhubungan dengan anak. Karena bisa jadi ada yang saya andalkan untuk mewakili saya melakukan itu semua. Saya bisa bilang seperti itu karena memang seperhatian itu uti dan akung pada cucu-cucunya.

Mungkin jika saya tetap di kampung halaman, tak kan saya rasakan post power syndrom yang kemudian menjadi sebab yang mempertemukan saya denga ibu profesional. Karena awalnya saya tertarik dengan value menjadi istri dan ibu yang baik bisa sejalan dengan jati diri kita. Menemukan passion agar binar diri sebagai perempuan tetap berpendar.

Inilah kisah panjangku tentang “merantau”. Jika ia mendewasakan saya, belum tentu seperti itu pula untuk kamu. Mungkin kamu bisa bertumbuh dewasa oleh keadaan disekitar kamu tanpa harus jauh ke kota rantau sepertiku. Mari berbahagia dengan jalan apapun yang Allah siapkan untuk mendewasakan kita.

Malang,

Ramadan 1443 H.