Menulis lagi tentang menyusui berarti saya harus memutar ulang memori enam tahu lalu untuk anak pertama, dan tiga tahun lalu untuk anak ke dua. Namun, sepertinya memutar memori enam tahun lalu lebih menarik. Penuh drama ibu baru yang mengalami kejadian serba pertama dalam hidupnya.
Bila diingat salah satu penyesalan saya saat itu adalah tidak mempelajari mitos-mitos ibu menyusui di sekitar lingkungan saya. Saya hanya terfokus tentang IMD, kolostrum, memijat PD, mebersihkan PD dan lain sebagainya. Ternyata mempelajari mitos itu penting. Untuk apa? Untuk menyiapkan jawaban-jawaban yang bersifat win-win solution. Tidak menyakiti orang tua tapi juga tidak membahayakan ibu dan bayinya.

Dari puluhan mitos yang harus saya rasakan saat itu ada dua mitos yang menurut saya berbahaya. Niat saya saat menulis ini bukan untuk menyalahkan para tetua ya, tapi untuk berbagi pengetahuan tentang mitos agar saat terjadi bisa kita hindari dengan cara yang menentramkan semua pihak.
Berikut ini mitos paling menyesatkan ala saya. Silahkan disimak.
1. Ibu minum air putih membuat bayi pilek.
Saat itu apakah saya percaya? Tentu saja tidak. Pilek karena minum air putih sangat tidak masuk akal bagi saya. Namun, saya tetap menyiapkan air putih di samping tempat saya menyusui. Sebotol air mineral bervolume sekitar tiga ratus mili. Saat saya ketahuan sering minum, saya ditegur, dimarahi, juga dipelototi. Botol saya itu akhirnya dijadikan patokan jatah minum dari pagi sampai sore.
Dengan keadaan yang lemah pasca melahirkan, hormon belum normal, tubuh pun merasakan sakit pasca operasi sesar. Saya terlalu malas untuk berargumentasi. Otak saya tidak bisa menemukan cara yang baik untuk menjelaskan kesesatan mitos tersebut. Saya hanya berkata kalau tidak mungkin minum air menyebabkan pilek. Pilek adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Tentu saja itu bahasa yang sulit mereka terima. Terlalu ilmiah, hoi! Saat itu kata virus belum se-familiar sekarang.
Akibat kurang minum saya sering pusing dan didera rasa haus yang teramat sangat. Hausnya melebihi orang yang sedang berpuasa. Saya sampai menangis saat itu karena ingin sekali minum tetapi tidak berani isi ulang botol.
Jika ada yang merasa pusing dan haus adalah hal sepele, mungkin iya untuk sebagian orang dalam keadaan yang biasa saja. Tapi tidak untuk ibu yang baru saja melahirkan. Saya harus menahan sakitnya jahitan, menikmati perubahan hormon, ditambah lagi harus tidur sambil duduk (senden), dan masih harus menanggung haus dan pusing? Entahlah, saya tidak bisa menemukan sepelenya dimana.
Untuk bayi tentu saja hal ini sangat berpengaruh. Asi yang secara harfiah kepanjangan dari air susu ibu, tentu saja ia berbetuk cair. Terbentuk dari cairan yang ada ditubuh sang ibu. Jika ibu kekurangan cairan, apakah mungkin produksi asinya akan optimal? Selain itu dampak untuk bayi juga tak kalah berbahaya. Bayi saya yang masih hitungan hari harus merasakan susahnya BAB. Dia Menangis meraung-raung sebelum bisa BAB.

Meski berat, ternyata kesakitan bayi saya itu adalah akhir dari drama haus yang saya rasakan. Orang tua bercerita ke koleganya jika bayi saya susah BAB. Sang Kolega menjawab “ibunya kurang minum itu.” Sungguh ajaib, satu kalimat dari orang yang mereka percaya bisa merubah prinsip mereka seketika. Akhirnya saya bebas minum.
Jadi sudah tau ya sarannya apa? Cari orang kepercayaan ibu atau bapak yang open minded, dipercaya oleh orang tua, dan terpandang. Sampaikan kita meminta tolong untuk memberi tahu pentingnya minum air putih untuk ibu menyusui. Hal ini perlu dilakukan jika kamu sudah tau mitos ini juga dipercaya dan dilestarikan di tempatmu. Bisa digunakan juga untuk mitos lain yang kamu anggap berbahaya.
2. Dilarang tidur dipagi hari karena darah putihnya bisa naik
Tidur adalah kemewahan untuk ibu baru. Diawal perjalanannya, dengan segala yang dirasakan tubuhnya ia masih harus begadang untuk menyusui. Bayi menangis ataupun tidak, ia tetap harus menyusui setiap 3-4 jam. Padahal tidur yang cukup sangat dibutuhkan karena masa-masa setelah melahirkan adalah masa-masa yang melelahkan. Istirahat sejenak juga membuat ibu nyaman sehingga bisa menghasilkan banyak ASI.
Tipe bayi saya adalah bayi yang minta digendong di malam hari. Biasanya antara jam 01.00 sampai jam 03.00 dini hari. Setelah minum ASI, ganti popok dan bedong, ia tetap menangis dan terjaga. Setelah digendong dan ditimang-timang dua sampai tiga jam baru lah ia akan tenang dan kembali tertidur.
Dengam keadaan seperti itu, saat bayi pulas di pagi hari, saya sering terbawa suasana untuk bisa memejamkan mata sejenak. Namun itu hanya khayalan. Para tetua yang sengaja bergantian menunggui tak kan membiarkannya. Khawatir darah putih naik katanya.
Bodohnya kesalahan yang sama tetap saya lakukan. Lagi-lagi saya menjelaskan sifat, karakterisktik, dan apa yang bisa membuat leukosit (si darah putih) naik. Sampe berbusa menjelaskan ya nggak akan nyambung. Wkwkkwk
Solusi dari saya, minta tolong kepada tenaga medis untuk menyampaikan pentingnya istirahat untuk ibu menyusui. Sekaligus menerangkan bahwa darah putih naik adalah mitos.
Sebenarnya masih banyak mitos yang saya alami. Misalnya hanya boleh makan nasi putih dengan lauk telur putih dan bawang goreng, tidak boleh keluar rumah sama sekali di lima hari setelah kelahiran, tidur harus senden dengan kaki lurus, dll. Namun, dua mitos yang saya sebutkan adalah mitos yang paling berbahaya karena menyangkut kesehatan dan dapat mempengaruhi produksi ASI. Dalam beberapa kasus bahkan mitos ini sangat mungkin memicu munculnya baby blues. Semoga kita bisa menghindarinya dengan bijak. Patut diingat juga bahwa para tetua seperti itu karena ketidaktahuan dan rasa sayang mereka kepada kita.