Pertama kali berkenalan dengan merajut saat hamil anak pertama. Setelah badai hiperemesis di Trimester pertama usai, saya mulai bisa “bangun” dan beraktivitas. Saat itu saya sudah mengajukan resign dari sekolah, dan memutuskan untuk ikut suami ke perantauan. Tidak banyak kegiatan yang bisa saya lakukan. Kami tinggal di kos-kosan yang tidak menyediakan dapur untuk penghuninya. Mengisi waktu dengan belajar memasak, tentu mustahil dilakukan. Maka saya mulai mencari kegiatan yang mungkin dilakukan dan menghasilkan sesuatu.
Saya buka-buka situs crafting dan melihat pernik-pernik bayi hasil rajutan. Topi bayi yang lucu, sepatu bayi yang imut, baju rajut yang terlihat hangat. Saya tertarik. Saya cari beberapa tutorial dan merasa bisa mempelajarinya.
Setelah menyampaikan niat saya kepada suami, kami berbelanja benang dan jarum rajut. Satu jarum ukuran 5 dan 6, serta 2 gulung benang rajut berwarna abu-abu dan pelangi. Hasil rajut pertama diniatkan membuat sepatu bayi, mengikuti tutorial berbahasa inggris. Tapi hasilnya seperti mainan perahu. Tak patah arang saya membuat sepatu kedua, ketiga, keempat, sampai benar-benar berbentuk sepatu. Dukungan suami juga sangat penting, agar sang istri yang sedang hamil merasa bahagia dan produktif.

Saat kami berkunjung ke surabaya, saya sempatkan mencari benang rajut lagi. Di Royal Plaza, Mall favorit saya saat menjadi mahasiswa. Disini saya juga membeli jarum ukuran yang lebih kecil, serta benang yang lebih halus dan cocok dibuat menjadi baju.

Setelah itu saya mengisi waktu menunggu kelahiran dengan merajut baju dan topi untuk anak kami.

Setelah Fadhil lahir, waktu saya sepenuhnya tersita. Benang-benang ini terbengkalai. Padahal sempat ada niat merajut lagi ketika melihat kakak saya juga merajut dan menghasilkan tas-tas yang bagus dan elegan. Walau sudah sampat belajar pola kepada kakak, tapi saat pindah ke malang tak juga saya temukan waktu untuk merajut.
Tiga tahun kemudian, saat hamil anak ke dua saya merajut bandana. Saya lakukan saat jenis kelamin si adek sudab diketahui. Saya hanya sempat membuat satu bandana karena keadaan lemah di awal kehamilan serta kontraksi palsu dan flek darah yang sesekali datang saat hamil tua.

Dua tahun berselang, benang dan jarum itu masih tersimpan rapi dalam pouch khusus. Sesekali memang saya pakai benangnya untuk media bermain bersama Fadhil dan Nadhira. Saat melihat mulai banyak konektor masker rajutan dipakai banyak orang, niat itu muncul lagi. Setidaknya saya tidak perlu membeli konektor yang bentar-bentar ilang, bentar-bentar lupa naruh. Hehehhe.
Kebetulan di pouch juga ada 2 kancing besar yang bisa saya gunakan. Akhirmya saya membuat konektor rajut pertama saya. Kemudian terpikir untuk membuat beberapa untuk para pelangan online shop saya. Yups, akhirnya saya belanja lagi. Membuat konektor dan bros dari benang rajut. Saat butuh tempat tissue saya juga membuatnya. Sekarang mencari tutorial merajut tak sesulit dahulu. Banyak sekali konten tutorial mejarut bahasa indonesia.

Terakhir hari ini, ada niat membuat tas kecil untuk adek karena senang sekali saat saya buatkan tas ala kadarnya dari kardus bekas. Dibawanya bermain kemana-mana. Jadi muncul keinginan untuk membuatkannga tas yang lebih layak.
Demikian perjalanan merajut saya yang sederhana dan sok didramatisasi…. hehhehe