Uncategorized

Anak Muda yang Baik Hatinya

Cerita ini terjadi sekitar 3 tahun lalu, saat Fadhil masih berumur dua tahun.

Sudah beberapa hari ban motor saya kempes dan belum sempat ditambal. Saya sebenarnya tidak terlalu butuh motor karena keseharian saya di rumah saja. Tidak perlu keluar jauh. Toko bisa dijangkau dengan jalan kaki, pak sayur bahkan mau dipanggil sampai depan gerbang. Satu-satunya alasan saat itu adalah saya butuh motor untuk mengajak fadhil keliling. Dengan maksud menidurkannya di siang hari. Mengalihkan dia agar tidak minum ASI karena saat itu adalah proses penyapihan.

Saya ingat betul waktu itu bertepatan dengan beban kerja suami di kantor yang berat. Akhirnya saya berinisiatif untuk membawa motor itu ke tukang tambal ban sendiri agar tidak menambah beban suami.

Jarak dari rumah sampai ke bengkel itu kurang lebih satu kilo meter. Saya bulatkan tekat berangkat jalan kaki sambil menggendong Fadhil. Resikonya pertama tentu saja banyak tetangga yang bertanya, mau kemana? Motornya kenapa? Saya jawab jujur kalau motor saya bocor dan sekalian mau ke mini market di dekat bengkel.

Rencana berjalan lancar, Fadhil anteng dan tidak rewel dalam gendongan. Saya pun sudah berjalan kurang lebih tiga ratus meter.

Tiba-tiba ada anak berseragam SMA menghampiri saya. Dari atas motor dia bertanya saya mau kemana, dan motor saya kenapa. Dia menawarkan agar saya naik motornya dan dia yang akan menuntun motor saya sampai bengkel. Saya sempat menolak karena takut dia terlambat. Namun, si anak baik hati ini bersikeras untuk menolong.

Sebenarnya saya juga melihat dia saat melintas disamping saya dengan kecepatan tinggi. Lalu berputar arah dengan kecepatan tinggi juga. Ternyata ia berputar karena mau menolong saya.

Saya terima niat baik anak ini lantas menaiki motornya. Dia menuntun motor saya setengah berlari. Ya Allah.. saya tidak tega, seperti ya anak ini sedang terburu-buru. Saya dekati dengan motor lalu saya berkata, “sudah cukup dek, udah deket biar saya lanjutkan.” Tapi dia tidak mau, dan malah bercerita sambil lari. Cerita kalau dia akan mengikuti try out dan meminta didoakan agar try out dan UANnya lancar.

Sesampainya di bengkel anak itu bergegas, saya tak sempat menanyakan namanya. Untuk anak muda baik hati jika mungkin kamu membaca tulisan ini saya sangat berterima kasih. Saking terharunya saya berdoa semoga Fadhil yang ada dalam gendongan saya saat itu memiliki kelembutan hati seperti kamu. Yang sebenarnya bisa saja mengacuhkan kami, toh sepanjang jalan tadi juga banyak yang hanya berbasa basi. Mereka tidak salah, karena saya juga enggan ngrepoti.

Tapi si Anak baik hati kembali. Memutar arah setelah melewati kami. Di waktu yang mungkin sempit dan terburu-buru.

Nak… doaku bukan saja kamu lulus ujian nasional. Semoga kamu bisa masuk perguruan tinggi yang kamu inginkan. Hidup dengan bersinar dan sukses saat memasuki jenjang karir. Diberikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah saat memutuskan berumah tangga nanti

Berbekal kebaikan hati itu, semoga Allah selalu mempermudah langkahmu wahai anak muda baik hati.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s